Di Hari Lupus Sedunia, Para Odapus Menulis Petisi dan Surat Cinta untuk Presiden

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa lebih dari 5 juta penderita Lupus di seluruh dunia, dimana setiap tahunya terjadi penambahan 100.000 kasus baru. Lupus merupakan penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan bukan penyakit menular. Penyakit ini banyak menyerang wanita aktif usia produktif, mulai dari umur 15 tahun sampai umur 45 tahun.


Hari Lupus Sedunia pertama kali diproklamasi pada tahun 2004 oleh komite internasional di Eaton, Inggris yang diwakilan oleh berbagai organisasi lupus dari 13 negara di dunia. Tujuan proklamasi ini adalah untu menyerukan ke seluruh dunia agar meningkatkan anggaran bagi penelitian, kepedulian dan pelayanan kesehatan pasien lupus.

Masalah yang dihadapi Odapus (Orang dengan Lupus) adalah obat-obat lupus yang dibutuhkan sebagai terapi pengobatan masih harus ditanggung oleh para Odapus sendiri, meskipun yang bersangkutan sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Berikut ini petisi yang disampaikan oleh para Odapus Indonesia yang ditunjukan untuk Menteri Kesehatan Nia Moeloek dan BPJS Kesehatan, yang penulis lansir dari www.change.org

Lupus adalah penyakit autoimun kronis, di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan penyakit, justru "menyerang" berbagai sistem atau organ dalam tubuhnya sendiri dan dapat mengancam jiwa.

Walau belum ada data yang akurat, saat ini diperkirakan ada sekitar 400.000 penyandang lupus di Indonesia, yang kebanyakan adalah wanita aktif usia produktif. Salah satu tantangan terbesar bagi Odapus (Orang dengan lupus) adalah besarnya biaya berobat.

Saat ini di di Indonesia memang sudah ada program BPJS Kesehatan yang memberikan jaminan kesehatan bagi rakyat Indonesia, namun dirasakan masih perlu disempurnakan teknis pelaksanaannya. Masalah yang dihadapi Odapus adalah, obat-obat lupus yang masih dikategorikan sebagai obat-obat "off-label", belum masuk dalam skema penjaminan, walau obat-obat tersebut diresepkan oleh dokter yang merawatnya. Obat "off label" adalah obat-obat yang merupakan obat bagi terapi pengobatan penyakit lain, namun juga dibutuhkan sebagai terapi pengobatan bagi Odapus. Akibatnya, biaya penggunaan obat-obat "off label" tersebut masih harus ditanggung oleh para Odapus walau yang bersangkutan menjadi peserta dan berobat melalui program BPJS Kesehatan.

Upaya mengajukan usulan ini sudah dimulai oleh Syamsi Dhuha Foundation (www.syamsidhuhafoundation.org) sejak tahun 2013 kepada Kementerian Kesehatan RI dan kami sangat berterima kasih kepada Menteri Kesehatan kala itu yang memberikan tanggapan positif atas usulan tersebut, namun hingga pergantian Kabinet, belum direalisasikan. Kami berharap dengan petisi yang disampaikan bersamaan dengan momentum Peringatan Hari Lupus Sedunia (World Lupus Day) 10 Mei 2015, dapat memperoleh dukungan dari seluruh Odapus di Indonesia maupun di luar negeri, keluarganya dan simpatasan yang memiliki kepedulian untuk menyelamatkan jiwa Odapus. Petisi ini juga untuk mengingatkan kembali kepada Menteri Kesehatan RI yang baru, agar usulan yang sudah pernah disampaikan dapat dikabulkan oleh Menteri Kesehatan dan dapat dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan.

Adanya fasilitas BPJS kesehatan yang menanggung biaya penggunaan obat-obat "off label" bagi pengobatan para Odapus akan sangat membantu meringankan beban biaya pengobatan yang harus ditanggung.
Terima kasih untuk memberikan dukungan dan menandatangani petisi ini serta menyebarluaskan petisi ini kepada sahabat dan teman-teman lainnya.

Berikut isi dari surat cinta para odapus untuk Presiden Jokowi, surat yang berisi curhatan penderita lupus di Indonesia yang merasa program JKN/BPJS Kesehatan belum berpihak kepada para Odapus. Berikut surat cinta yang ditulis oleh orang dengan lupus di Indonesia:

Jakarta, 6 Mei 2015
Surat Cinta untuk Bapak Jokowi

Di depan televisi, kami memandang Bapak dengan rasa kagum. Kami berharap dapat menatap Bapak lebih dekat untuk mengungkapkan rasa bangga dan dukungan kami pada Bapak. Namun, kami tidak tahu, bagaimana Bapak melihat kami, karena kami adalah orang-orang yang hidup dengan Lupus - yang sering dipanggil "para Odapus", orang yang hidup dengan Lupus.

Saat takdir mengetuk pintu kehidupan, kami harus menerima kenyataan bahwa kelainan autoimun yang mematikan, yang "suka menyamar" menjadi bermacam-macam penyakit, telah menjadi kawan sehidup semati kami. Kami berusaha memandang angka kematian kami yang besar, persentase kehidupan kami yang kecil, sebagai pengingat bahwa hidup dan penderitaan manusia di dunia hanya sementara.

Bapak Jokowi yang kami cintai, ijinkan kami mencurahkan sedikit beban di hati. Lupus, Pak, adalah penyakit autoimun kronis, di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan penyakit, justru menyerang berbagai sistem atau organ dalam tubuhnya sendiri, dan dapat mengancam jiwa. Walaupun belum ada data yang akurat, saat ini diperkirakan ada sekitar 1.500.000 penyandang lupus di Indonesia. Kebanyakan adalah wanita aktif usia produktif. Kami, Pak, seringkali tak hanya menyuliskan kondisi ekonomi kami, dengan biaya berobat yang sangat tinggi, namun juga menyusahkan orang-orang yang dekat dengan kami. Yang tidak mengerti akan mencibir dan mencap kami terkena kutukan, dengan kulit yang terkelupas atau rupa yang berubah akibat lupus.

Hal ini membuat kami sedih, apalagi saat kami terpaksa meminta tolong anggota keluarga kami membayarkan biaya pengobatan rutin yang sangat berat, karena kami tidak dapat bekerja seperti sebelumnya. Biaya pengobatan kami sangat tinggi. Sekalipun Bapak memberikan harapan kami pada Kartu Indonesia Sehat, pada BPJS, pada kenyataannya pengoatan lupus belum masuk penjaminan. Hal ini, kata para dokter yang merawat kami, dikarenakan obat-obata lupus yang masih dikategorikan "off-label".

Lalu, kami melirik, membandingkan, sahabat-sahabat penderita kanker, AIDS, dan membatin: "Kurang parahkah keaadaan kami?" Apakah beda nilai sebuah nyawa karena penyebabnya berbeda? Kami, Pak Jokowi, berobat untuk bertahan hidup, bukan untuk menunggu mati. Penyembuh, saat organ tubuh kami dihancurkan perlahan-lahan oleh sistem kekebalannya sendiri, saat ginjal yang tadinya sehat menjadi bocor dan bobot kami bertambah 3 kali lipat, saat seluruh kulit kami terbakar dari dalam karena pengrusakan sistem pengikat, saat jantung kami melemah, saat rasa sakit melebihi kata-kata....

Bapak Jokowi yang kami sayangi dan hormati, hanya keadilan yang kami pintakan, yang Bapak dapat berikan melalui kebijakan dan realisasi BPJS Kesehatan. 1.500.000 jumlah kami mungkin tidak signifikan bagi persentase pemilihan umum, namun tiap satunya adalah nyawa, Pak. Nyawa manusia Indonesia yang bukan kami ingin mengemis, namun ingin mendapat bantuan agar kami dapat terus berkarya, dapat terus bekerja bersama Bapak mengisi kemerdekaan Indonesia.

Wassalam,
Odapus Indonesia‎


Editor: Heru Setianto
Source: syamsidhuhafoundation.org
Disqus Comments